Friday, September 23, 2016

BUKAN SAYA YANG MEMBERI KUCING ITU

Bukan saya yang memberi makan kucing itu tapi Allah. Saya hanya perantara rezeki Dia sampai kepada si kucing.

Dan saya ingin terus menjadi perantara sampainya rezeki untuk siapa pun makhluk Allah yang ada di muka bumi.

Karena saya bahagia melakukannya.

Seperti memberi ikan kepada kucing itu. Di tas saya ada uang, saya manfaatkan, tinggal berangkat ke pasar pagi hari, membeli ikan, minta si pedagang memotong dan membersihkan kotorannya, trus bawa pulang, goreng sampai matang, campur nasi, berikan, selesai. Itu saja, tidak ada yang berat.

Sangat mudah sangat menyenangkan, sangat membahagiakan.


Tuesday, September 20, 2016

TENTANG DERI HARFAN DRAJAT

Deri kemarin menginap di sini Pak

Pas malam Senin.

Saya melihatnya sangat potensial.

Menurut ceritanya, di mobil dalam perjalanan ke Depok ini, dia ditanya orang mau ke mana. Dia jawab mau ke Depok. Ditanya lagi, mau apa. Dia jawab, mau mengadu nasib mencari pekerjaan. Ditanya lagi, mau jadi apa. Dijawab, mau jadi penulis.

Kemudian Deri memperlihatkan novel yang sedang digarapnya kepada orang itu, dan orang itu membaca, keasyikan sampai sekian kilometer perjalanan orang itu terus membaca.

Karena dibacanya di hape, Deri meminta kembali hapenya. Orang itu tidak mau karena ingin menyelesaikannya. Deri katakan, kalau harus selesai butuh waktu lama.

Orang itu pun kecewa karena tidak bisa menyelesaikan membaca.

Begitu menurut ceritanya.

Sekarang dia mendapatkan job, sebuah proyek menulis buku biografi dari seorang artis bernama--SEBUT SAJA NAMANYA BUNGA

Senin kemarin meeting bersama artis itu.

Sebelum berangkat, malamnya saya sarankan ke dia, supaya MENJADIKAN INI SEBAGAI STRATEGI DIA UNTUK MEMBANGUN BRANDING

Saya sarankan dalam rapat itu dia mengajukan nama dirinya dicantumkan sebagai nama penulis buku itu di jilid depan.

Sehingga nanti setelah buku itu selesai, dia sudah mempunyai sebuah karya buku cetak.

Tapi saya katakan, jangan sampai MODUS kita ini ketahuan.

"Katakan pada Si Bunda artis itu, jika buku itu ditulis dan nama penulisnya dia sendiri, maka kesannya seperti narsis. Tapi kalau yang nulis orang lain, maka kesannya bagus, orang akan memandang si bunda hebat, begitu hebatnya sampai-sampai kisah hidupnya ditulis orang lain."

Deri pun berangkat ke sana untuk rapat.

Setelah rapat dia pulang ke kampungnya di Majalengka, saya tanya dia, jadi siapa yang disepakati nama penulisnya?

Deri Harfan Drajat, jawab Deri...

Friday, September 16, 2016

Ide Menulis Buku

Mendapatkan ide menulis

Kutemukan Kedamaian Hanya di Jalan-Mu

Caranya mengumpulkan tulisan-tulisan lama, dari catatan-catatan yang sudah terkubur di facebook, di catatan harian, di laptop.


Monday, September 12, 2016

SEPUCUK SURAT DARI VE

Seseorang menulis jujur menyatakan kurang nyaman sama yang posting rumah tangga hanya menceritakan keindahannya saja, kemudian dia menginginkan dikupas juga rumah tangga dengan segala pelik permasalahannya, sebab pasti masalah itu ada.

Akun penulis postingan itu lupa lagi, cuma sedikit ingat, maaf, namanya agak mirip jenis kacang begitu.

Saat membaca tulisan itu, saya ingin tidak berpihak kepada siapa-siapa. Tidak juga ingin memberikan komentar serius, apalagi mendebat, sekalipun saya sendiri seringkali berbagi cerita tentang keindahan rumah tangga.

Memang untuk berbagi sisi kelam dari kehidupan rumah tangga cukup berat, apalagi menceritakan aib rumah tangga pribadi, sebab ini berarti menyangkut kehormatan keluarga. Jadi saya pikir, akan sangat jarang orang menulis tentang kepahitan rumah tangga.

Hanya sehari kemudian saya teringat sebuah buku yang, sekalipun tengah malam dan lelah, tapi mata bisa segar membacanya. Buku itu membahas pernikahan, dan tak biasa. Saat buku lain membahas dari sisi keindahan, melain pahit getirnya dalam bentuk kisah.

Kata Pengantarnya yang berjudul "SEPUCUK EMAIL DARI VE", menyampaikan...

"Pernikahan memang seringkali terlihat dalam warna-warni pelangi. Mimpi-mimpi indah bisanya mengisi benak seorang gadis sebelum dia menikah. Pada kenyataannya mungkin hanya sedikit perempuan yang benar-benar beruntung merasakan hanya nuansa cerah selama menikah. Seorang teman mengernyitkan kening saat melihat buku CATATAN HATI SEORANG ISTRI. Tidak mengerti kenapa saya hanya menulis kisah-kisah getir tentang pernikahan. "Seperti nggak ada pernikahan yang bahagia saja Mbak!" lebih kurang begitu komentarnya."

Bila yang diinginkan itu kisah rumah tangga dari sisi pahit getirnya, buku ini memberikan. Ditulis berdasarkan email dari para istri yang dinasibkan kurang beruntung dalam rumah tangganya. 

Antara lain surat dari Ve

"... Suami memang tidak pernah memukul, tapi mengucapkan kata-kata kasar dan kurang pantas memang cukup sering. Pernah suatu hari dia marah dan sangat tersinggung untuk sesuatu yang tidak saya ketahui alasannya. Hanya berulang-ulang dia katakan bahwa saya telah menginjak harga dirinya. Untuk alasan itu dia merasa berhak mengangkat kaki dan menaruhnya di kelapa saya ... jika seorang istri sudah berbeda pendapat dan sudah tidak sejalan, apa boleh meminta bercerai, Mbak? Karena terkadang suami saya sering mengejek dan membuat saya merasa tidak berarti. Dia mengatakan saya gendut, jelek, dan kata-kata lain yang membuat saya terluka, meski secara fisik saya baik-baik saja. Apa yang harus saya lakukan, Bunda? Dari hari ke hari saya merasa seperti tidak memiliki harga diri ... merasa begitu rendah, apa yang harus saya perbuat?"

Jawaban dari pertanyaan mengapa saya tetap segar membacanya sekalipun lelah dan sudah larut malam, adalah karena buku ini menyajikan ketegangan. Blak-blakan berkisah tentang suara hati beberapa istri yang selama ini sekedar bisik dari tetangga ke tetangga.

Thursday, September 8, 2016

PEMILIHAN NAMA TOKOH BUAT CERITA, GAK PERLU PUSING!

Ada orang mau mau nulis, milih nama tokohnya saja sampai peras kepala sampai segede lampu bohlam.

Sebab mendengar nama tokoh harus sesuai dengan karakter yang diperankannya.

Ah itu mah kata orang yang ingin tulisannya biasa-biasa saja

Itumah kata orang yang ingin tulisannya tidak istimewa.

Yang ingin tulisannya istimewa, special, justru bebas. Dia merasa bebas menggunakan nama apa saja buat si tokoh sesukanya.

Justru dari penggunaan nama yang tidak sesuai itulah dia memberikan sesuatu yang beda kepada pembaca.

Direktur Bambang, itu sudah biasa

Tapi Direktur Emon, itu luar biasa, dan tentu saja akan bikin sebuah cerita istimewa.

Sesuatu yang biasa-biasa saja, menjadi seragam, tidak mengesankan.

Sesuatu yang beda, menjadi special, mudah diingat.

Jadi untuk memilih nama tokoh, GAK PERLU MIKIR!!!!

Sebut saja sesukanya, seenaknya.

Ibu Hajah Panci

Julaeha Kompor Gas

Dinda Tali Rapia

Ahmad Kemoceng

Titin Keong

Dsb.

Wednesday, September 7, 2016

ICIH

Icih, sebuah lambang dari wanita desa sederhana. Kehidupannya di rumah kayu bersama suaminya, senantiasa tenteram sekalipun sehari-hari jauh dari kemewahan seperti gaya hidup para istri jaman sekarang.

Handphone, tablet, android, belanja, online tidak ada dalam kamus kesehariannya. Makan mencukupkan dari hasil kebun, kalau tidak ada lauk, dia mencukupkan diri makan dengan garam. Begitu pulalah gaya hidup yang dia ajarkan kepada anaknya.

"Icih, saya mendengar siapa yang bisa bertapa di makam yang ada di Karang Kamulian, Ciamis, maka dia akan mendapatkana kekayaan secara ajaib, sepertinya harus Akang coba bertapa di sana."

"Karang Kamulian di mana Kang, masih daerah Garut inikah?"

"Bukan, itu termasuk Ciamis, orang menyebutnya Objek Wisata Ciung Wanara."

"Ah jangan Kang, itu kan perbuatan yang merusak agama kita."

"Ada Cih orang yang nekad bertapa di sana, tantangannya sangat berat."

"Apa?"

"Penjaga di sana bercerita, pernah ada  peziarah datang ke sana hendak melakukan ritual pesugihan. Dia berusaha mencegahnya, tapi peziarah itu maksa. Ya dibiarkan. Tapi belum tiga jam, peziarah itu menjerit-jerit minta tolong. Katanya ada yang mencekik."

"Ih, apalagi kalau sampai begitu. Jangan Ah Kang. Jangankan melakukannya, niatnya aja jangan sampai Kang, aku lebih rela hidup penuh kekurangan dalam keadaan iman terjaga, daripada kaya raya tapi menyekutukan Yang Maha Kuasa."

"Tapi aku ingin membahagiakanmu Icih."

"Tidak Kang! Dengan kehidupan begini pun Icih sudah sangat bahagia. Hidup ini singkat Kang,

"Kebahagiaan tidak terletak pada harta Kang, tapi di hati. Itu yang dulu sering diajarkan ayah saya kepada murid-muridnya di sela-sela melatih silat. Aku suka mendengarnya dari dalam kamar, melalui celah-celah dinding bambu. Kebahagiaan itu adanya di hati, dan di hatiku sekarang hanya ada kebahagiaan."

'Resiko kesusahan duniawi paling maksimal adalah meninggal dunia. Aku rela kok Kang sampai meninggal dunia gara-gara kekurangan tidak bisa menemukan makanan yang halal."

"Begitukah Cih?"

"Iya Kang."

"Kok Akang rasanya seperti pria-pria beruntung di dalam dongeng, mempunya istri tulus yang hatinya tulus dipenuhi cinta yang tulus."

"Kita bertakwa saja kepada Allah Kang, kita jaga saja aturan-aturannya, insya Allah Dia pun akan menjaga kita. Itulah prinsip yang kupegang."

"Seluarbiasa itukah Cih?"

"Iya Kang, karena, karena, karena, aku ingin SAKINAH BERSAMAMU... "

"Kamu memang istriku yang tercantik."

"Ah tidak pantas Kang, orang kampung macam kita saling merayu,"

"Kata siapa Cih, kebahagiaan adalah gak segala bangsa."

Tuesday, September 6, 2016

BERSAKIT-SAKIT DAHULU

Wiro masih mondar-mandir, belum pulang, padahal sudah Maghrib. Dia menunggu Wulan yang masih sibuk ngedit.

"Wir, buku SAKITNYA BERSAMAMU sudah tamat berapa kali?" tanya saya.

"Waktu dulu ngedit sampai berkali-kali tamat." jawab Wiro sambil nyengir.

"Kalu buku ini?" saya menunjukkan buku SAKINAH BERSAMAMU.

"Hah? Belum." jawab Wiro lemas.

Wulan menengok, bengong sebentar, lalu kembali menatap layar komputer.

"Wah bahaya. Bisa jadi ancaman nih," saya berusaha membuat Wulan cemas. Wiro sudah berkali-kali menamatkan buku SAKITNYA BERSAMAMU, tapi belum pernah sekalipun tamat membaca buku SAKINAH BERSAMU, ini sangat mengkhawatirkan.

Tapi dengan logat medok jawanya Wulan ngeles, "Ya nggak papa, BERSAKIT-SAKIT DAHULU, SAKINAH KEMUDIAN."

Monday, September 5, 2016

WAKTU KITA CUMA TERSEDIA BUAT BERKARYA

Orang senang dengan karya kita, terima kasih kita ucapkan kepadanya. Orang mengkritik karya kita lalu membantu memperbaikinya, well terima kasih juga kita ucapkan kepadanya. Tapi orang datang dengan kata-kata menyudutkan, lalu kita tidak senang dan ingin balik berdebat, ah ucapkan saja salam dalam hati dan tidak perlu menanggapinya. Waktu kita terlalu berharga. Waktu kita hanya tersedia buat berkarya.

Masih banyak hal berharga buat kita tuliskan daripada melayani perdebatan yang tidak tahu manfaatnya untuk apa. Kecuali jika dari perdebatan itu kita tahu manfaatnya, misalnya dari debat itu bisa kita jadikan bahan tulisan, itu sih lain cerita. Saat sadar perdebatan yang kita lakukan ingin dijadikan sebuah karya, otomatis akan berusaha berkata sebaik-baiknya, seilmiah-ilmiahnya, berupaya menyajikan fakta dan argumentasi paling masuk akal dan tentu saja itu bisa menjadi sebuah dialog menarik yang bagus buat dipublikasikan.

Tapi jika akhirnya perdebatan itu tidak jadi apa-apa, lalu buat apa? Cuma buang-buang waktu.

Masih banyak hal lebih berharga buat kita bicarakan dalam tulisan. Misal membicarakan buku yang baru saja kita baca. Menuliskan betapa menariknya buku itu, lalu mengapresiasi bagian-bagian pentingnya. Misalnya saya, sepanjang perjalanan pulang kampung, dalam bus membaca sebuah buku yang tidak berani saya sebutkan judulnya, begitu juga tidak berani saya sebutkan nama penulis karena si penulis ini karena menulis buku ini dia dianggap murtad, kafir, kemudian dianggap halal darahnya dan ditembak mati oleh masyarakat yang tidak suka.

Saya baca karyanya sampai tercengang-cengang. Beberapa kali hati saya berkata, "Ah yang benar? Masa sih? Kok bisa ya? Mhh.. tega benar! Gila, kok bisa begitu ya?" Buku itu betul-betul ditulis dengan penuh energi, penuh semangat, dilandasi dengan fakta-fakta sejarah akurat yang selama ini banyak disembunyikan. Penulis menulis buku ini dengan penuh kesungguhan dan perasaan. Sekalipun non fiksi yang disajikan dengan gaya argumentasi narasi, tapi penyajiannya sangat sastra, seperti menyajikan sebuah roman.

Buku yang benar-benar memikat!

Saking menariknya, di kursi bus saya sampai terjongkok-jongkok membaca.

Sayang saya tidak berani menyebutkan judul dan penulisnya. Karena kalau toh di sini saya sebutkan, apalagi sambil diterangkan panjang lebar isinya, Anda yang panatik dalam beragama pasti akan menyerang. Jadi cukuplah saya membagikan pelajarannya: SEBUAH BUKU YANG DITULIS DENGAN PENUH KESUNGGUHAN, BISA MENARIK ORANG LAIN MEMBACA DENGAN PENUH KESUNGGUHAN.

Dan buku semacam itu sangat banyak. Buku karya para ulama jaman dulu yang masih cetak ulang sampai sekarang itu menandakan sang buku telah ditulis dengan penuh kesungguhan. Ihya Ulumuddin contohnya, ditulis dengan penuh kesungguhan sambil bertapa di menara masjidil Aqsha oleh Al-Ghazali, penulisnya. Fathul Bari, kitab sangat tebal, ditulis dengan penuh kesungguhan dalam perjalanan oleh Ibnu Hajar. Begitu juga Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, cobalah buka, dan saat mulai membaca buku itu--ini yang saya rasakan--siapa pun akan langsung larut dalam suasana indah sekaligus menegangkan mengikuti perihidup Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddid.

Masih banyak hal bermanfaat bisa kita lakukan. Lalu mengapa harus merugikan diri buang-buang waktu buat hal tidak bermanfaat?

Jadilah Totalitas

Menjadilah sepenuhnya pada apa yang kamu pilih
Dari situ kamu akan memancarkan kharisma
Jangan setengah-setengah
Totalitas dengan apa yang yang sudah kita pilih

Galilah yang dalam

Selama ini orang terus mencari sumber energi
Energi listrik tenaga air
Energi listrik tenaga angin
Energi listrik tenaga matahari


Sebetulnya, dari setiap benda pun bisa menghasilkan energi
Setiap benda terdiri dari atom
Dan atom itu sumber energi
Saat orang berhasil memisahkan elektron dari atom, maka keluarlah energi listrik
Saat orang bisa membelah inti atom, maka dari situ keluar energi
Energi nuklir

Bagaimana itu bisa dicapai? Dengan totalitas

Sunday, September 4, 2016

MEMBAHAS MASALAH KELUARGA

Mengingat perusahaan tempat saya kerja lebih banyak menerbitkan buku tentang keluarga, sepertinya saya harus banyak menulis tentang keluarga. Tentang rumah tangga, tentang pendidikan anak.

Dengan cara itu maka akan terjadi kesatupaduan antara apa yang saya sukai dengan apa yang saya kerjakan.

Kekacauan pikiran terjadi saat saya menyukai sesuatu yang bukan pekerjaan saya, yang karenanya kerja saya menjadi tidak sepenuhnya.

Langkah-langkahnya...

Saya banyak membaca buku-bukunya kemudian menulis tentangnya sesuai judul yang menginpirasi saya.

Banyak mendengarkan konsultasi keluarga di youtube, pendidikan anak yang disampaikan Ayah Edy, kemudian pengajian-pengajian, dan sebagainya.

Tulisan saya hanya banyak kisah-kisah, kata-kata mutiara, dan ungkapan-ungkapan yang enak dibaca.

Harus saya buka juga grup facebook dengan nama Keluarga Bahagia.

Nah sekarang sudah saya bentuk grup itu, dan ini linkya.... KLIK DI SINI

Untuk fanspagenya, cukup fanpage Kang Dana, di sana link dari blog akan saya bagikan.

Pelajarilah sesuatu dan menjadilah sesuatu itu, dan berbagilah dengan orang lain berdasarkan sesuatu itu. Jadi yang kita bagikan saat berbicara di depan orang lain itu kehidupan saya saja.

Tapi bagaimana saya akan menyampaikan tentang keluarga jika sehari-hari saya sendiri jauh dari keluarga?

Tidak masalah, saya bisa aplikasikan dengan berkeluarga di perusahaan.

"Jangan mengajari anak mencari uang, tapi ajarilah anak dicari oleh uang. Jangan ajari anak mencari uang, ajarilah anak mencari kebahagiaan."